Product sudah berhasil ditambah ke cart.

Hadits ke 44 Generasi Sebaik-baik umat



Hadis: 0044: Sebaik-baik Generasi Umat
Agustus 19, 2010 pukul 2:45 pm

Pertama, teks hadis: Khairu al-nas qarni, tsumma ladzina yalunahum, tsumma ladzina yalunahum, tsumma ladzina yalunahum, tsumma ladzina yalinahum, tsumma yuhibbuna al-saman yanthiquna al-syahadah qaba an yusaluha.

Kedua, terjemahan: Sebaik-baik umat adalah mereka yang sezaman dengan zamanku, kemudian generasi yang sezaman setelah saya, kemudian generasi yang sezaman setelah mereka. Kemudian berikutnya akan datang suatu kaum yang menggemukkan diri, yakni dengan lemak,  mereka memberikan kesaksian padahal tidak diminta kesaksiannya.

Ketiga, status hadis: Hadis shahih.

Keempat, penjelasan hadits: Menurut nalar apapun mereka yang langsung di bawah asuhan Rasulullah saw. adalah umat yang terhebat, karena mereka secara langsung mendapatkan sentuhan kharismatik Nabi dan do’a Nabi. Mereka yang lemah hafalannya dengan doa Nabi menjadi kuat hafalannya. Ada yang buta dengan do’anya Nabi menjadi sembuh. Ada yang tidak bisa khusu’ dalam shalat dengan bimbingan Nabi menjadi sangat khusu’. Maka pantas mereka mendapatkan sanjungan Allah dan Rasul-Nya. Namun yang tidak boleh dilupakan kehebatan seperti di atas tentunya sifatnya nisbi, tidak mutlak. Artinya tidak semua mereka dari kalangan sahabat ilmunya lebih hebat daripada ilmu generasi selanjutnya misalnya. Bahkan terbukti dari sekian sahabat mengetahui bimbingan Rasulullah, namun sahabat lainnya malah tidak mengetahuinya. Misalnya Aisyah dalam kapasitas istri Rasulullah tidak pernah tahu kalau suaminya (Nabi) pernah buang hajat kecil dengan berdiri, sehingga ia berani mengatakan “Siapa yang mengkhabari kalian bahwa Muhammad saw. Pernah buang hajat kecil dengan berdiri, dia adalah pendusta”. Dalam nalar Aisyah itu hal yang sangat tidak masuk akal, Nabi sebagai uswah hasanah tentu tidak mungkin memberi contoh buang hajat kecil dengan berdiri, namun sahabat lain telah bercerita apa adanya kepada kita: Waktu itu Nabi sedang menuju ke tempat buang sampah umat kemudian beliau buang hajat kecil dengan berdiri. Saya yang mengambilkan batuan untuk beliau gunakan istinja’. Seperti itulah keilmuan sahabat yang sangat bervariatif, ada yang tahu ada yang tidak. Karena Rasulullah tidak menyampaikan semua hadits di hadapan semua sahabat. Kadang yang mendapatkan ilmu hanya beberapa orang, bahkan kadang ilmu itu hanya disampaikan oleh Rasulullah saw. kepada sahabat tertentu. Maka dapat dimaklumi, kalau sebagian sahabat ada yang mengetahui namun sahabat yang lain tidak mengetauhuinya. Hal ini belum lagi dikaitkan, apakah bimbingan Nabi itu masuk wilayah tauqifiyah atau kauniyah. Pada wilayah tauqifiyah tentunya keilmuan sahabat harus lebih dikedepankan. Namun apabila bimbingan Nabi masuk wilayah kauniyah tentunya umat yang datang berikutnya justru lebih mengerti terhadap sinyal Nabi. Ambil contoh dalam merukyat dhil (bayang-bayang) matahari sebagai tanda masuknya waktu Dhuhur misalnya, maka dengan ditemukan ilmu hisab maka sudah dapat dihitung jam berapa dan menit berapa terjadinya dhil tersebut. Dalam merukyat hilal tidak lagi dilakukan secara narutal tetapi dengan juga menggunakan ilmu hisab. Untuk menentukan arah kiblat dengan ilmu hisab diketahui pada hari tertentu matahari berkulminasi di atas Ka’bah, sehingga masyarakat dunia yang dapat siang bisa melihat bayangan dari matahari tersebut. Bahkan dengan ilmu hisab, tempat tertentu dapat dihitung posisi lintang dan derajat arah kiblatnya. Dalam kasus-kasus seperti inilah Nabi sendiri berpesan agar umat yang datang selanjutnya lebih canggih dalam menguasai keilmuannya. Indahnya kalau setiap umat Islam memahami hadits seperti ini sehingga tidak digenalisir bahwa dalam urusan apa pun harus mencontoh Nabi dan salafu shalih. Misalnya shalat tidak boleh pakai hambal, tidak boleh pakai sajadah, lantainya tidak boleh dikeramik, tidak boleh makai mikropon karena tidak ada haditsnya?! Karena semua itu urusan kauniyah, bukan tauqifiyah.

Kelima, takhrij hadis: Hadits di atas diriwayatkan oleh Ja’dah, Imran ibn Hushain, Abdullah ibn Mas’ud dan Nu’man ibn Basyir. Adapun periwayatan Ja’dah dikeluarkan oleh Abdul Hamid, Ibn Abi Syaibah, Ibn Qani’, Thabrani, Hakim, dan Ibn Abi Ashim. Hadits ini dinilai Ibn Hajar (7/7) semua perawinya adalah tsiqah (terpercaya dan cermat), hanya saja Ja’dah dipersesilihkan nilai kesahabatannya. Adapun periwayatan Imran ibn Hushain dikeluarkan Turmuduzi, Ibn Hibban, Hakim, dan Ahmad. Adapun periwayatan Abdullah Ibn Mas’ud dikeluarkan Bukhari, Muslim, Ibn Majah, Abu Daud Thayalisi, dan Ahmad. Adapun periwayatan Nu’man ibn Basyir dikeluarkan Ahmad. Dengan demikian diperselisihkannya Ja’dah tidak menjadi masalah, dan dengan berbagai kesaksian periwayatan di atas status hadits menjadi shahih.

Keenam, referensi: Lebih lanjut silakan erujuk referensi berikut ini: Maqasid: 218. Tamyiz: 75. Kasyf: 1/396. Abdul Hamid: 383. Ibn Abi Syaibah: 32408. Ibn Qani’: 1/154. Thabrani: 2187. Hakim: 4871. Ibn Abi Ashim: 1476. Turmuduzi, Ibn Hibban: 2285. Hakim: 3/471. Ahmad: 4/426. Bukhari: 5/199, 7/6, 11/460. Muslim: 7/184-185. Ibn Majah: 2/63-64. Abu Daud Thayalisi: 299. Ahmad: 1/378, 417, 434, 438, 442. Ahmad: 4/267, 276 dan 277.

 (Pertama) teks hadits, (Kedua) terjemahan hadits, (Ketiga) status hadits dan (Keempat) penjelasan hadits adalah diperuntukkan masyarakat awam. Sedangkan (Kelima) takhrij hadits dan (Keenam) referensi adalah diperuntukkan para cendikiawan dan para pemerhati hadits.

 


Customer Services

  • solasi satusolasi567@ymail.com

Tentang Kami

Bertaqwalah kepada Alloh SWT dan Semoga Muamalah kita ini berkah.

© 2008 www.tokosolasi.com

toko bahan baku bikin sticker rolrolan meteran tempelan gambar tempel sticker stiker mug mugs cutting mesin bahan baku